It all started with a dream... literally...
Kamu pasti sudah pernah dengar kan, kata-kata mutiara "It all started with a dream", "Semua dimulai dari mimpi". In my case, itu lah yang benar-benar terjadi. Jadi tadi malam aku bermimpi...
Aku dan suamiku berada didalam mobil, dijemput oleh "teman" suamiku dan assistentnya, but somehow I couldn't see his face. Yang aku ingat, assistentnya pakai baju model overal (atau dikenal dengan celana monyet), diikat dibagian bahu, berwarna putih dengan bunga-bunga besar yang berwarna-warni. Jujur aku ga pernah si lihat baju itu in real life, tapi aku ingat sempat berpikir kalau bajunya cewe banget, padahal itu asistent yang pakai cowo loh, jadi agak-agak genit gitu ya. Well, that is not the point, tapi kalau sampai baju model itu tau-tau jadi populer, berarti mimpiku hebat juga yah.
Di dalam mobil, temannya itu bilang ke kita, kalau "you have to grow to live", bukan kita hidup jadi kita bertumbuh, tapi justru kita yang harus bertumbuh agar kita bisa hidup. Lalu dia memberi contoh, seperti seorang koki yang hanya masaknya itu-itu saja, lama-lama dia akan "mati". Dia tidak bertumbuh, dan dia tidak hidup. Sekalipun koki itu hanya mengenal 1 resep, keahlian hanya di 1 jenis masakan, saat dia membuat kreasi baru, menambahkan bahan, dekorasi, atau mempunyai ide baru untuk presentasi masakannya, itu dia berkembang, dan berarti dia hidup. And that is the meaning of being alive.
Sama seperti rumah. Rumah adalah benda mati, tapi rumah yang 'hidup' akan terus berkembang, berubah. Seperti tanaman ditaman yang berkembang, berganti, atau yang paling sederhana adalah foto. Kita orang Indonesia sangat menyukai foto. Disemua rumah pasti ada foto. Tapi dengan seiringnya waktu, orang yang masuk dan keluar dalam hidup kita, foto-foto itu pun berubah. Mungkin dulu kita memasang foto kita saat kecil, sekarang foto anak-anak kita. Kita simpan kenangan lama, dan kita buat kenangan baru. Hal-hal sesederhana itulah yang menjadi bukti kalau there is growth, and therefore, we lived.
Tiga tahun lalu aku pindah ke Indonesia, dan saat aku masuk, rumah itu sudah penuh dengan barang dan foto suamiku. Dalam tiga tahun ini, foto-foto dirumahku tetap sama, hanya foto suamiku dan keluarganya. Sampai saat ini belum ada satu pun foto keluargaku dirumah itu. Apa ya artinya? Dia tidak mau mengganti foto2nya, karena itu adalah 'miliknya', dan untuk menambah baru, tidak ada ruang. Hidup ditentukan oleh pilihan. Dan dia memilih untuk dirinya. Apakah itu berarti tidak ada tempat untukku? Apakah artinya rumah kita mati? Tidak ada kehidupan didalamnya? terpaku pada masa lalu dan diri sendiri? And what do I choose?
And so here I am, starting my new blog, karena aku juga belum tahu apa yang akan aku pilih. Yang pasti, aku akan terus berkembang, karena aku mau hidup. Untuk mengembangkan diriku, mulai minggu depan aku akan mulai les setir. Sekalipun aku sudah berumur 40 tahun, tapi aku percaya tidak pernah ada kata terlambat untuk berkembang. Mulai hari ini aku akan terus mengembangkan diriku, I will start my growth, and start living as it should be.
Comments
Post a Comment